PINRANG.MATALASINRANG.com– Usianya sudah 96 tahun. Namun, langkah Indo Parida masih terlihat mantap. Ia bahkan masih mampu naik turun tangga rumah anaknya tanpa bantuan.
Perempuan bernama lengkap Parida itu lahir pada 2 Agustus 1930. Ia merupakan putri pertama pasangan Ladudu dan Marissengang, penduduk asli Kabupaten Pinrang dari suku Patinjo. Parida memiliki seorang adik bernama Katenni, dan keduanya hingga kini masih hidup.
Yang membuat kisah Indo Parida menarik, keluarga menyebut sepanjang hidupnya ia hampir tidak pernah mengenal layanan medis seperti Puskesmas maupun rumah sakit.
Bukan hanya soal usia. Di tengah kehidupan modern yang membuat banyak orang bergantung pada berbagai fasilitas kesehatan, Indo Parida justru menjalani hidup dengan sangat sederhana.
Sejak muda, ia lebih banyak berada di rumah, membaca Al-Qur’an, tidak banyak memikirkan persoalan yang menurutnya tidak perlu dan selalu berusaha mensyukuri apa yang dimiliki.
“Lebih baik sibuk di rumah, baca Al-Qur’an, tidak banyak berpikir dan mensyukuri apa yang ada,” menjadi prinsip hidup yang selama ini dipegangnya.
Indo Parida menikah dengan almarhum Mansyur, seorang khatib di Masjid Nurut Taqwa, Kelurahan Bittoeng RK 1, Kecamatan Duampanua. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tujuh orang anak. Mansyur meninggal dunia pada 2004.
Putri pertamanya, Haslinda, mengenang ibunya sebagai sosok yang tidak pernah kasar kepada anak-anak.
“Orang tua saya tidak pernah marah pada anak-anak dan selalu tersenyum. Hidup apa adanya,” ungkap Haslinda kepada Matalasinrang.com.
Kebiasaan makan dan minum Indo Parida juga terbilang tidak biasa. Menurut keluarga dan hasil pantauan langsung Matalasinrang.com, ia hanya mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah yang sangat sedikit.
Air putih yang diminumnya pun biasanya hanya beberapa sendok. Sejak dahulu, ia terbiasa minum air putih yang dimasak menggunakan kayu bakar.
Namun, kebiasaan tersebut merupakan pola hidup pribadi Indo Parida dan bukan berarti dapat dijadikan anjuran kesehatan. Kondisi setiap orang berbeda dan kebutuhan nutrisi serta cairan pada lansia tetap perlu diperhatikan.
Di usia 96 tahun, Indo Parida juga masih mampu membaca Al-Qur’an. Penglihatannya disebut masih cukup jelas untuk mengenali huruf-huruf Al-Qur’an.
Ia juga masih mempertahankan kemandiriannya. Anak dan cucunya bahkan tidak diperbolehkan mencucikan pakaiannya karena ia masih ingin mengerjakan sendiri.
Dalam hal ibadah, Indo Parida dikenal tetap menjaga salat lima waktu. Ia juga masih menjalankan puasa wajib dan rutin melaksanakan puasa sunah sesuai kemampuannya.
Bagi keluarga, sosok Indo Parida bukan sekadar perempuan yang telah mencapai usia 96 tahun. Ia menjadi teladan tentang kesederhanaan, kesabaran, kemandirian dan ketekunan menjalani kehidupan.
Kini, di tengah usia yang semakin senja, Indo Parida masih tersenyum, masih membaca Al-Qur’an dan masih berjalan dengan kedua kakinya sendiri.
Kisah Indo Parida bukan sekadar tentang panjang umur, tetapi tentang bagaimana ia menjalani hampir satu abad kehidupan dengan sederhana dan penuh rasa syukur.
Matalasinrang.com – ARDY.SH














