PINRANG.MATALASINRANG.com– Semangat beribadah ratusan siswa di UPT SMP Negeri 3 Pinrang, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang, ternyata jauh lebih besar daripada kapasitas fisik sekolah. Sebanyak 354 siswa Muslim di sekolah tersebut harus melaksanakan salat Zuhur berjamaah dengan sistem “pecah ruangan” lantaran mushola utama tidak mampu menampung seluruh jamaah yang membludak.
Kondisi ini, yang sejatinya merupakan masalah infrastruktur, justru menjadi cerminan tingginya ketaatan beragama di kalangan pelajar.
Menurut Hj. Lina Harlina S.Pd, Yang merupakan Guru Agama sekaligus Pembina Remus (Remaja Mushola) UPT SMP Negeri 3 Pinrang,Alhamdulillah dengan program Bapak Bupati Pinrang Gerakan Siswa Memakmurkan Masjid (GSMM) , siswa-siswi kami sebelum pulang mereka melaksanakan shalat berjamaah, selain itu, mereka juga melaksanakan shalat Dhuha, ucap ketua Remus, Hj. Lina.
total siswa yang mengikuti shalat berjamaah mencapai 355 orang.Kata dia,hanya satu siswa tidak melaksanakan shalat berjamaah karena beragama non-Muslim, praktis sebanyak 354 pelajar membutuhkan ruang ibadah yang layak secara bersamaan.
“Mushola kami memang tidak mencukupi. Dengan jumlah siswa 353 (Muslim) yang aktif beribadah, kami harus menyiasati dengan membagi tempat menjadi dua lokasi utama,” jelas Hj. Lina kepada awak media Matalasinrang.com dilokasi.Sabtu, 1 Oktober 2025
Ia menambahkan, selain dua lokasi utama tersebut, disediakan pula satu ruangan khusus yang dipergunakan untuk anggota OSIS dan Remus agar pelaksanaan shalat dapat berjalan tertib dan terstruktur.
Tingginya antusiasme ibadah di sekolah ini tidak hanya terjadi saat shalat Zuhur. Hj. Lina memaparkan, pada pagi hari, siswa juga aktif melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah.
Kegiatan keagamaan ini kemudian ditutup dengan shalat fardhu berjamaah sebelum seluruh siswa-siswi diizinkan kembali ke rumah.
“Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah, hanya ada satu siswa yang tidak melaksanakan shalat karena ia non-Muslim. Sisanya, semua mengikuti shalat berjamaah, baik Dhuha maupun Zuhur [sebelum pulang],” katanya.
Untuk memastikan ketertiban dan kedisiplinan, pihak sekolah melibatkan anggota Remus dalam tugas khusus sebagai pengendali jamaah.
Anggota Remus memiliki tanggung jawab ganda: mereka terlebih dahulu mengontrol kehadiran dan kesiapan siswa di masing-masing kelas sebelum waktu shalat tiba.
Selanjutnya, mereka bertugas mengabsen setiap siswa yang memasuki ruang mushola atau lokasi shalat tambahan yang telah disediakan.
Selama jalannya shalat, kondisi yang terbagi di beberapa ruangan ini tetap dipantau ketat oleh sejumlah guru yang ditempatkan di lokasi berbeda.
Pengawasan intensif ini dilakukan untuk memastikan ibadah berjalan khusyuk dan sesuai tuntunan agama.
Penulis by @RD












