MATALASINRANG.COM.PINRANG – Pengurus Daerah Ikatan Wartawan Online (PD IWO) Kabupaten Pinrang menyoroti kembali ditemukannya beras bantuan pangan yang diduga berkutu di Desa Mattombong, Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang.
Ketua PD IWO Kabupaten Pinrang, Soemarlin Putra, menyayangkan persoalan tersebut kembali terjadi. Menurutnya, kejadian beras bantuan yang diduga berkutu di Desa Mattombong bukan pertama kali terjadi.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Ini sudah kedua kalinya terjadi di Desa Mattombong. Kalau kejadian sebelumnya tidak dievaluasi hingga kembali terulang, berarti pengawasan dan evaluasi Bulog patut dipertanyakan,” tegas Soemarlin, Senin (14/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul penolakan Pemerintah Desa Mattombong terhadap bantuan pangan beras yang didistribusikan pada Kamis pekan lalu. Kepala Desa Mattombong, Tahir, sebelumnya menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat dan pihak Bulog atas penolakan tersebut.
Menurut Tahir, penolakan dilakukan setelah pihak desa menemukan kondisi beras yang dinilai tidak layak, di antaranya terdapat kutu dan sebagian beras dalam kondisi mengeras.
Tahir menegaskan, penolakan bukan berarti pemerintah desa menolak program bantuan pangan, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat agar bantuan yang diterima benar-benar layak dan aman dikonsumsi.
Pemerintah Desa Mattombong juga telah mengamankan rekaman video yang memperlihatkan kondisi beras tersebut sebagai bukti.
Menanggapi persoalan itu, Pimpinan Cabang Bulog Kabupaten Pinrang, Faizal Jafar, memastikan beras yang bermasalah akan ditarik dan diganti dengan beras yang lebih layak.
“Jika ada beras yang diterima masyarakat dianggap kurang layak, kami siap menerima kembali untuk diperbaiki dan disalurkan ulang,” ujar Faizal.
Ia mengatakan, proses penggantian beras untuk Desa Mattombong sedang dilakukan dan diperkirakan terealisasi dalam waktu dekat.
Bulog juga menjelaskan bahwa beras bantuan yang disalurkan merupakan beras kualitas medium yang diserap dari petani lokal melalui sejumlah mitra penggilingan. Perbedaan tampilan fisik beras, menurut Bulog, dapat terjadi karena beras berasal dari berbagai penggilingan dan varietas padi.
Meski demikian, Bulog memastikan akan memperketat pemeriksaan kelaikan beras sebelum dikirim ke desa-desa.
IWO Minta Ada Evaluasi Menyeluruh
Soemarlin menilai kejadian yang kembali terulang tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Ia meminta Bulog melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pemeriksaan, penyimpanan hingga distribusi beras bantuan.
“Kami meminta Bulog Cabang Pinrang dievaluasi menyeluruh jika tidak mampu memastikan kualitas beras bantuan yang diterima masyarakat. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat lemahnya pengawasan,” tegasnya.
Menurut Soemarlin, bantuan pangan merupakan hak masyarakat yang harus diterima dalam kondisi layak. Karena itu, kualitas bantuan menjadi bagian penting yang harus mendapat perhatian serius dari pihak yang bertanggung jawab dalam proses penyaluran.
IWO Pinrang juga mendorong agar kejadian serupa tidak kembali terulang, sehingga masyarakat penerima bantuan dapat memperoleh beras yang bersih, layak dan aman untuk dikonsumsi.
Sementara itu, Bulog Pinrang menyatakan komitmennya untuk memperketat pemeriksaan kualitas dan memastikan setiap beras bantuan yang disalurkan memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Matalasinrang.com| Membangun Melalui Informasi

